Showing posts with label Usia Sekolah. Show all posts
Showing posts with label Usia Sekolah. Show all posts

Tuesday, February 23, 2016

Gejala dan Cara Mengatasi Adiksi Gadget Pada Anak

Gejala dan Cara Mengatasi Adiksi Gadget Pada Anak - Kini gadget bukan hanya bagian dari orang dewasa, tapi juga anak-anak. Bahkan, di era digital sekarang ini, orangtua seakan justru mengenalkan gadget sedini mungkin pada anak. Ini terlihat dari banyaknya orangtua yang memfasilitasi gadget untuk anaknya yang berusia balita. Padahal, pemakaian gadget yang tak dibatasi pada anak bisa menyebabkan adiksi.

Gejala dan Cara Mengatasi Adiksi Gadget Pada Anak

Gejala dan Tanda Adiksi Gadget Pada Anak

Menurut Elizabeth T. Santosa, Psikolog Pendidikan dan Anak, ada tiga tanda anak adiksi gadget, yaitu tantrum saat diminta berhenti bermain gadget, tidak merespon panggilan saat sedang bermain gadget, dan jika sudah sekolah, nilai akademisnya menurun.

“Orangtua harus punya power ketika anak sudah menunjukkan gejala adiksi. Salah satunya dengan menentukan aturan baru. Jangan takut anak tantrum dan sebagainya. Justru orangtua yang harus berani mengendalikannya,” ungkap psikolog yang akrab disapa Lizie ini.

Dikatakan Lizie, ada dua faktor yang bisa menyebabkan anak berlama-lama screen time, yaitu orangtua yang tidak sadar mengabaikan anak, karena sibuk dengan gadget-nya sendiri dan orangtua yang kurang memahami bahaya paparan layar elektronik.

Bahkan, maraknya pemakaian gadget pada anak-anak, membuat American Academy of Pediatrics merilis rekomendasi penggunaan gadget pada 2011 lalu, agar bayi berusia di bawah dua tahun sama sekali tidak boleh menonton televisi dan untuk anak yang berusia lebih besar, disarankan hanya boleh screen time maksimal dua jam per hari.

Gejala dan Cara Mengatasi Adiksi Gadget Pada Anak

Tips Mengatasi Adiksi Gadget Pada Anak

Memang harus diakui, gadget atau gawai saat ini sulit dipisahkan dari aktivitas sehari-hari, terutama pada mereka yang berusia produktif, mulai dari untuk urusan pekerjaan, bermain game, hingga sekadar mengecek linimasa beberapa media sosial.

Sayangnya, kebiasaan ini menurun ke anak-anak, yang seharusnya mendapatkan stimulan sesuai pertumbuhan otaknya.

Jika anak sudah menunjukkan tanda kecanduan, peran orangtua sangat penting untuk memperbaikinya.

"Salah satu cara mengatasi adiksi screen time pada anak adalah membuat aturan baru. Misalnya, jika anak terbiasa main gadget setiap hari, buat aturan baru hanya main pada Sabtu dan Minggu. Orangtua enggak boleh kalah dengan anak. Enggak boleh takut anak tantrum dan marah. Tunjukkan kepada anak bahwa kendali ada pada orangtua,"

Selain itu, menurut psikolog yang akrab disapa Lizie ini, orangtua juga harus memberikan contoh dan menujukkan konsistensi. Bagaimanapun juga, anak akan mengikuti apa yang dilakukan oleh orangtuanya.

"Jangan melarang anak main gadget, tetapi orangtua selalu sibuk dengan gadget-nya. Makan malam keluarga pegang gadget, di mobil buka gadget, mau tidur sibuk dengan gadget. Kalau tidak mau anak main gadget, orangtua juga jangan pegang gadget. Apa yang Anda harapkan, Anda harus contohkan," kata Lizie.

Untuk mengalihkan perhatian anak dari gadget, orangtua bisa membacakan buku dengan mendongeng agar anak lebih tertarik. Menumbuhkan minat membaca buku memiliki efek positif yang lebih banyak ketimbang membiasakan anak belajar dengan gawai. Selain itu, orangtua juga bisa mengenalkan berbagai permainan kreatif yang menstimulasi motorik anak sesuai usianya.
credit : nytimes.com

Monday, February 15, 2016

Orang Tua Wajib Baca ! Inilah Efek Negatif Jika Anak Anda Sering Nonton Film Kartun

Efek Negatif Jika Anak Anda Sering Nonton Film Kartun

Efek Negatif Jika Anak Sering Nonton Film Kartun

Umumnya anak usia balita gemar menonton film kartun yang menghadirkan warna-warna cerah sehingga menarik perhatian untuk berlama-lama menghabiskan waktu.

Namun, para orangtua harus hati-hati. Pasalnya, sekarang ini, banyak film kartun yang menayangkan adegan kekerasan yang berbahaya untuk ditonton si kecil.

Menurut penelitian terkini mengatakan bahwa sering menonton televisi dan film kartun bisa berpengaruh buruk pada anak saat usianya mencapai periode sekolah. Mengapa demikian?

Penelitian yang digelar oleh University of Washington, Seattle, Amerika Serikat menemukan bahwa anak usia balita yang sering nonton televisi bisa mengalami kesulitan fokus dan berkonsentrasi saat mereka mulai bersekolah.

Baca juga : 3 Tips Metode Mengasuh Terbaik Untuk Anak

Risiko tersebut terus meningkat hingga mencapai 10 persen ketika durasi menonton anak bertambah dari waktu yang dianjurkan. Kondisi ini akan jelas terlihat ketika buah hati Anda berusia tujuh tahun.

Penelitian menyimpulkan bahwa anak yang menonton televisi sebanyak delapan jam per hari memiliki risiko sukar berkonsentrasi sebanyak 80 persen ketimbang anak yang menonton kurang dari delapan jam, atau sama sekali tidak menonton televisi.

Kemudian, penelitian bergulir pada pilihan film yang ditonton oleh banyak anak-anak, yaitu film jenis kartun.

Ternyata, film kartun yang berjalan cepat dengan kemasan gambar marak warna, bisa merusak konsentrasi dan perilaku anak-anak.

Sebab, beberapa hasil uji menunjukkan bahwa anak empat tahun yang hobi menikmati film kartun dengan konsep tersebut di atas, tumbuh dengan kemampuan memecahkan masalah yang minim.

American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan para orangtua untuk mengawasi waktu menonton anak.

Jumlah waktu yang dianjurkan tak lebih dari satu hingga dua setiap hari. Kemudian, orangtua juga dihimbau untuk lebih rajin dalam menyeleksi jenis film kartun yang dikonsumsi oleh anak.

“Efek jangka panjang yang permanen dari kebiasaan menonton televisi memang masih merupakan materi yang terus berkembang, tapi menurut penelitian ini, saya konfirmasi, menonton televisi dan film kartun terlalu lama dapat menjadi masalah utama anak,” jelas Dr Dimitri Christakis, Director, Center for Child Health, Behaviour, and Development, University of Washington, Seattle, Amerika Serikat.

Otak anak balita masih tumbuh dan berkembang, apabila tontonan anak selalu mengekspos stimulasi yang kurang menguntungkan, bisa membuat kemampuan mereka dalam berkonsentrasi menurun dan tidak terbentuk secara optimal.

Dr Christakis menyarankan untuk orangtua tetap memonitor jenis tontonan anak dan lama waktu menonton setiap harinya.

Lusina / Kompas.com

Friday, February 12, 2016

Penyebab Anak Susah Tidur dan Cara Mengatasinya

Jauh sebelum hari-hari dimana adanya perekembangan smartphone dan internet, begitu banyak faktor yang mempengaruhi otak anak-anak kita dan bersaing untuk mendapatkan perhatian dari mereka. Hal tersebut akan berdampak buruk pada kebiasaan tidur anak-anak . Berikut ada beberapa saran untuk membantu bagaimana anak-anak mendapatkan waktu tidur yang wajar sehingga mereka mendapatkan tidur yang mereka butuhkan.

Tips Agar Anak Bisa Tidur Nyenyak

Penyebab Anak Susah Tidur dan Cara Mengatasinya

1. Kurangi paparan cahaya terang di kamar buah hati selama dua jam sebelum tidur. Paparan cahaya terang yang dikurangi dapat membantu otak mempersiapkan untuk tidur. Cahaya mengirim sinyal kuat ke otak bahwa keadaan masih siang hari dan terlalu dini untuk berpikir untuk pergi tidur.

Penyebab Anak Susah Tidur dan Cara Mengatasinya

2. Menghilangkan kegiatan yang merangsang si anak untuk aktif, seperti bermain video games, menonton televisi, berolahraga , dan lainnya. Karena Selama beberapa jam setelah mereka bangun, hal tersebut akan membantu buah hati kita cepat lelah dan kembali ke mode tidur lebih cepat.

Penyebab Anak Susah Tidur dan Cara Mengatasinya

3. Pastikan bahwa tidak ada paparan cahaya dari layar seperti layar smartphone, komputer dan televisi di dalam kamar tidur. Hal ini juga dapat membantu menyalurkan perhatian anak (untuk tidak pergi tidur) kita terhadap sesuatu yang lebih menyenangkan.

Baca juga : Astaga Bayi Bisa Mati Mendadak Jika Posisi Tidurnya Salah

Penyebab Anak Susah Tidur dan Cara Mengatasinya

4. Pastikan anak- anak melakukan pekerjan rumah (PR) di luar kamar tidur mereka, misalnya di meja ruang makan. Menjauhkan fisik anak kita dengan hal-hal yang dapat memicu stress dan tidur anak memungkinkan mereka untuk melepaskan dirinya lebih mudah ke dalam tekanan yang sudah didapatkannya pada saat siang hari.

Penyebab Anak Susah Tidur dan Cara Mengatasinya


5. Meskipun ada beberapa panduan yang menyarankan waktu tidur untuk disesuaikan dengan usianya, penting bagi para orang tua mengingat bahwa jumlah aktual waktu tidur yang dibutuhkan oleh anak dapat bervariasi. Sebagian besar dari orang tua menginginkan memberikan anak usia 7 tahunnya tidur selama 10 jam, namun mungkin saja mereka tidak membutuhkan waktu yang terlalu banyak.

Membiarkan anak-anak melakukan sesuatu yang menenangkan dan santai yang tidak menggusarkan mereka sebelum tidur benar-benar dapat membuat mereka lebih mudah untuk tertidur lebih cepat. (source;nationalgeographic.co.id)

Friday, January 8, 2016

3 Tips Metode Mengasuh Terbaik Untuk Anak

Metode Mengasuh Terbaik Anak

Tips Metode Mengasuh Terbaik Untuk Anak


POLA asuh terhadap anak kini menjadi topik terhangat para orangtua. Ini menjadi perhatian yang tak kalah dari isu-isu politik.

Orangtua semakin terbuka dalam menerima saran terbaik dalam mengasuh anak. Mereka tak sungkan meninggalkan cara lama demi kemajuan buah hati. Untuk itu, seperti yag dilansir dari Familyshare inilah sistem pola asuh terbaik yang akan diterapkan orangtua terhadap anak..

Bicara tentang emosi

Orangtua kini berpikir bahwa anak perlu mengatahui tentang emosi. Baik yang dirasakan sendiri atau orangtuanya. Jadi perubahan bentuk emosi secara tiba-tiba bisa dibicarakan.

Berbagi tugas

Orangtua harus selalu berusaha menghadirkan semha kebutuhan anak. Bukan semua tanggung jawab ibu. Ayah akan terlibat juga menemani anak ke pesta, mengabil rapot, dan kegiatan lainnya.

Bermain sensorik

Anak harus membiasakan melatih semua panca indera mereka. Seperti, penciuman, pendengran, perasa, pengelihatan, dan sentuhan. Terlalu banyak bermain game akan mengurasi sifat-sifat tersebut. 

Monday, December 28, 2015

Coba Pijat Tuina Yah Bunda, Solusi Untuk Meningkatkan Nafsu Makan Anak

Pijat Tuina Solusi Untuk Meningkatkan Nafsu Makan Anak - Si kecil seringkali GTM alias gerakan tutup mulut? Ya, problem seperti ini kerap membuat banyak orang tua khususnya para ibu jadi uring-uringan.

Beragam cara dicoba agar si kecil mau buka mulut dan kembali melahap makanan. Mulai dari membuat menu baru hingga menghias makanan hingga nampak menarik.

Namun bagaimana kalau aksi tutup mulut tak kunjung berakhir?

Jangan panik, coba cara yang satu ini. Pijat tuina, namanya. Ini merupakan teknik pijat tradisional Cina yang diajarkan Dr. Fan Ya-Li (pakar tuina anak) untuk membantu menstimulasi nafsu makan anak serta meningkatkan penyerapan gizi.

Teknik ini mudah dan bisa dipelajari para orangtua yang kerapkali kesulitan dalam memberikan asupan makanan yang baik dan sehat.

Yuuk, ikuti tutorial pijat tuina di bawah ini. Dialih bahasakan dan diperagakan oleh Reza Gunawan (praktisi kesehatan holistik) & Atisha

Langkah ke 1


Coba Pijat Tuina Yah Bunda, Solusi Untuk Meningkatkan Nafsu Makan Anak

Tekuk sedikit ibu jari anak, dan gosok garis dipinggir ibu jari sisi telapaknya, dari ujung ibu jari hingga ke pangkal ibu jari antara 100-500 kali. Ini akan membantu memperkuat fungsi pencernaan dan limpa.

Langkah ke 2


Coba Pijat Tuina Yah Bunda, Solusi Untuk Meningkatkan Nafsu Makan Anak

Pijat tekan melingkar bagian pangkal ibu jari yang paling tebal berdaging 100-300 kali. Ini uraikan akumalasi makanan yang belum dicerna serta menstimulasi lancarnya sistem cerna.

Langkah ke 3


Coba Pijat Tuina Yah Bunda, Solusi Untuk Meningkatkan Nafsu Makan Anak

Gosok melingkar tengah telapak tangan 100-300 kali, dengan radius lingkaran kurang lebih 2/3 dari tengah telapak ke pangkal jari kelingking. Stimulasi ini memperlancar sirkulasi daya hidup dan darah, serta harmoniskan 5 organ utama tubuh.

Langkah ke 4


Coba Pijat Tuina Yah Bunda, Solusi Untuk Meningkatkan Nafsu Makan Anak

Tusuk dengan kuku anda serta tekan melingkar titik yang berada di tengah lekuk buku jari yang terdekat dengan telapak, untuk jari telunjuk, tengah, manis, dan kelingking. Tusuk dengan kuku 3-5 kali dan pijat tekan 30-50 kali per titik. Ini memecah stagnasi di meridian dan menghilangkan akumulasi makanan.

Langkah ke 5

Coba Pijat Tuina Yah Bunda, Solusi Untuk Meningkatkan Nafsu Makan Anak

Tekan melingkar dengan bagian tengah telapak tangan anda di area tepat diatas pusarnya, searah jarum jam 100-300 kali. Ini Menstimulasi makanan agar lebih lancar.

Langkah ke 6

Coba Pijat Tuina Yah Bunda, Solusi Untuk Meningkatkan Nafsu Makan Anak

Dengan kedua ibu jari, tekan dan pisahkan garis dibawah rusuk menuju perut samping 100-300 kali. Ini memperkuat fungsi limpa dan lambung yang juga memperbaiki pencernaan.

Langkah ke 7

Coba Pijat Tuina Yah Bunda, Solusi Untuk Meningkatkan Nafsu Makan Anak

Tekan Melingkar titik dibawah lutut bagian luar, sekitar 4 lebar jari anak dibawah tempurung lututnya, 50-100 kali. Ini akan harmoniskan lambung, usus, dan pencernaan.

Langkah ke 8

Coba Pijat Tuina Yah Bunda, Solusi Untuk Meningkatkan Nafsu Makan Anak

Pijat secara umum punggung anak. Lalu tekan dengan ringan tulang punggungnya dari atas ke bawah 3 kali. Lalu cubit kulit di kiri-kanan tulang ekor dan merambat keatas hingga lebar, 3-5 kali. Ini memperkuat konstitusi tubuh anak, mendukung aliran chi (daya hidup) sehat dan memperbaiki nafsu makan anak.

Lakukan cara ini 1 kali sehari selama 7 hari. Umumnya satu seri cukup, bila perlu ditambah maka berikan jeda 1-2 hari sebelum seri baru. Jangan paksa anak untuk makan di saat ia tidak mau! Karena hal ini hanya akan memicu trauma psikologis anak terhadap makanan. Dan jangan biasakan anak untuk makan dengan sambil membaca atau main.

Semoga tips ini bermanfaat dan selamat mencoba. Jangan lupa di SHARE kepada ibu-ibu yang punya anak yang malas makan.
[Sumber: Rayya Bookstore]

Sunday, December 27, 2015

Mulai Sekarang Segera Hentikan Jika Anak Anda Duduk Bersila Seperti W ! Ini Alasannya

bahaya duduk bersila W pada anak-anak

Para orang tua atau anda pasti banyak menjumpai seorang anak duduk bersila membentuk huruf W. Bahkan anak-anak ini sanggup duduk bersila seperti itu hingga berjam-jam karena sedang bermain.
Namun informasi ini harus anda perhatikan.

Sebab duduk semacam itu banyak kurang dipahami karena ada dampak buruk atau negatif.

Dilanasir nspt4kids.com/parenting dan infoherbalis.com bahwa duduk seperti ini dapat menyebabkan rotasi pinggul dalam dan predisposisi, dan berkembangnya masalah ortopedi yang serius.

Terlebih lagi, posisi ini juga menyebabkan deformasi otot dan kontraksi, serta pertumbuhan tulang yang tidak benar.

Bahkan, setiap ortopedi profesional akan memperingatkan Anda untuk tidak membiarkan anak-anak Anda untuk duduk seperti ini.

Dalam posisi ini, efek gravitasi melebihi pusat gravitasi tubuh dasar, sehingga otot-otot tubuh tidak dapat mempertahankan keseimbangan tubuh secara normal.

Cara termudah untuk mencegah komplikasi adalah untuk mencegah duduk dalam posisi ini menjadi kebiasaan.


Oleh karena itu, jangan biarkan anak-anak Anda untuk duduk dalam posisi ini, tetapi mencoba dan memotivasi mereka untuk duduk dengan posisi kaki lurus (selonjor) , atau mungkin saling silang (bersila). 

Tuesday, September 1, 2015

Anak mendengkur saat tidur ? Mungkin Ini Penyebabnya

Anak mendengkur saat tidur ? Mungkin Ini Penyebabnya - Mungkin saat ini anda melihat sesuatu yang aneh pada buah hati anda. Ia mendengkur saat tidur ! Kebiasaan anak mendengkur saat tidur perlu diwaspadai apalagi hal ini bukan dikarenakan karena kelelahan, sebab kondisi anak yang mendengkur saat tidur bisa menjadi sesuatu yang tidak biasa.


Memang, bukan cuma orang dewasa yang sering mendengkur. Penelitian di Amerika Serikat menemukan bahwa 11 – 12% anak berusia 1 – 9 tahun mendengkut, dengan frekuensi 3-4 kali seminggu. Menurut Dr Ronny Suwento, Sp THT(K) dari Departemen Telinga Hidung dan Tenggorokan, Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta, secara prinsip tidak ada perbedaan mengorok pada orang dewasa dan anak. Keduanya berhubungan dengan masalah saluran pernapasan.

penyebab kenapa anak mendengkur saat tidur Lalu apa saja penyebab utama anak mendengkur saat tidur ?

Seperti di kemukakan diatas faktor penyebab anak mendengkur saat tidur bisa berawal dari kondisi kelelahan, namun ditinjau dari segi medis feneomena anak mendengkur ketika tidur bisa disebabkan dari beberapa faktor diantaranya adalah :

1. Amandel

Pada anak, penyebab tersering adalah pembesaran amandel (terletak di belakang rongga mulut) dan adenoid (terletak di belakang rongga hidung), akibat  infeksi dan alergi,” katanya. Amandel dan adenoid bertugas ’menangkap’ kuman yang masuk ke dalam tubuh dan melindungi anak dari penyakit. Saat melawan kuman terkadang amandel dan adenoid membengkak, merah, dan meradang. Ini menyebabkan terhalangnya aliran udara.

Oleh karena itu cara pencegahan dan pengobatan yang pertama harus di lakukan untuk anak dengan kebiasaan mendengkur ini adalah mengatasi masalah amandel atau radang tonsil-adenoid dan masalah kelainan anatomi dan sistem syaraf dapat di atasi dengan metode bedah orthodontik.

2. Alergi

Hal serupa juga sering dialami oleh anak-anak yang memiliki bakat alergi, allergic rhinitis dan alergi yang berhubungan dengan pernapasan. ”Pada kondisi alergi akan terjadi pembengkakan  selaput lendir hidung  yang menyebabkan pembesaran adenoid. Saat itu, anak terlihat sulit bernapas melalui hidung sehingga bernapas melalui mulut.

Alergi ini paling sering menyebabkan seorang anak berusia di bawah satu tahun mengorok. Untuk mengatasinya, sama seperti menangani masalah alergi pada umumnya, yaitu menghindari faktor alergen, seperti debu dan asap rokok. Sering-sering membersihkan boneka dan mengganti selimut.

3. Obesitas / Kegemukan

Kenapa obesitas bisa menyebabkan anak mendengkur??hal ini disebabkan obesitas atau kegemukan ini juga mengakibatkan peningkatan lemak pada leher. 

Pada anak dengan obesitas, kumpulan lemak yang berlebihan di daerah leher akan menekan saluran napas terutama pada posisi terlentang.

Maka dari itu, jika Anda sebagai orang tua tidak ingin terganggu dengan suara mendengkur yang berasal dari anak Anda mulai dari sekarang ajarilah untuk diet agar tubuh tubuh anak anak lebih ideal.

4. Faktor Pertumbuhan

Terkadang kebiasaan mendengkur pada anak, juga berhubungan dengan tumbuh kembangnya. Dokter Ronny mencontohkan, mungkin ukuran rahang bawah anak masih kecil namun seiring bertambahnya usia, ukuran rahangnya ikut tumbuh, sehingga ngorok dapat hilang setelah perkembangan rahang yang optimal.

Waspadai Dampak Anak Mendengkur Saat Tidur

Ada beberapa dampak dari anak yang sering mendengkur saat tidur. Setidaknya itulah pernyataan yang di kemukakan oleh  dr Andreas Prasadja, RPSGT seorang ahli kesehatan tidur dari RS Mitra Kemayoran. 

Salah satu yang paling buruk dari kondisi ini adalah berhubungan dengan tumbuh kembangnya. ini akan berdampak pada kognitif, emosional, dan masih banyak lagi.

Dalam masa tumbuh kembang anak memang banyak hal yang perlu diwaspadai. Khususnya untuk hal-hal kecil yang dianggap biasa oleh orangtua seperti ngorok atau mendengkur

Untuk kognitif pada anak, dr Ade mengatakan sudah tentu harus dijaga karena hal ini berkaitan dengan akademis anak. "Kalau pada kognitifnya jelas harus dijaga, karena bisa jadi akademisnya menurun. Selain itu, motorik halusnya bisa tidak berkembang," ungkap Ade.

Selain itu gangguan tidur pada anak yaitu dapat menimbulkan kualitas tidur yang buruk, karena kurangnya pasokan oksigen.

Anak menjadi mudah letih dan menyebabkan anak lebih cepat lapars sehingga cenderung mengkonsumi makanan manis yang tentunya dapat memicu obesitas yang ujungnya2 menimbulkan resiko penyakit yang lebih berbahaya.  


Semoga artikel mengenai kondisi anak mendengkur saat tidur yang telah kami ulas, bermanfaat.

Jangan lupa di share untuk sahabat dan orang-orang yang anda sayangi. Salam sehat :)

Monday, August 17, 2015

Ciri-Ciri Si Kecil Kurang Minum Bisa Dilihat dari Warna Kencingnya

Ciri-ciri anak kurang minum - Bunda pasti tahu ya, jika salah satu zat yang paling penting dan dibutuhkan oleh tubuh adalah air. Bahkan 70% tubuh kita terdiri dari air. Sayangnya, sampai saat ini, masih banyak sekali anak-anak dan remaja Indonesia yang kurang minum air. Bahkan data dari Thirst study, 2010, menunjukan kalau saat ini separuh (51%) dari remaja Indonesia mengalami dehidrasi ringan. Memprihatinkan, ya?


Dampak dehidrasi ini memang tidak bisa dianggap sepele, terlebih bagi anak-anak. Seperti yang dijelaskan Dr. Sudung O. Pardede, SpA(K) dalam acara media edukasi Hidrasi pada Anak yang dilakukan beberapa hari lalu.


Dokter yang tergabung dalam Ikatan Dokter Anak Indonesia ini mengatakan kalau dehidrasi berkaitan dengan penurunan fokus dan konsentrasi pada anak. “Kurang minum bisa menyebabkan anak jadi cepat lupa, sulit mengerjakan soal, dan susah memproses pelajaran,” begitu katanya.

Oleh karena itulah anak dianjurkan untuk minum setiap 30 sampai 60 menit sekali sepanjang hari. “Walaupun nggak haus, ya, tetap saja berikan, terutama bagi anak yang aktif. jangan menunggu anak hingga haus, karena haus merupakan tanda bahwa tubuh sudah kekurangan cairan,” ungkapnya

Ciri-Ciri anak Kurang Minum Bisa Dilihat dari Warna Kencingnya

Memang, kebutuhan cairan anak berbeda dengan orang dewasa ataupun pada ibu hamil. Ternyata komposisi cairan di tubuh anak, justru lebih besar, yakni kurang lebih 10-15% dari berat badannya. Sementara orang dewasa, memiliki komposisi cairan 2-4% dari berat badan.

ciri-ciri anak kurang minum

Menurut dr. Sudung, kebutuhan air pada anak usia 1 hingga 3 tahun per harinya adalah 1.1 liter arau kurang lebih 4 gelas, sementara usia 4-6 tahun membutuhkan air setidaknya 1,4 liter atau 6 gelas. Sedangkan anak usia 7-9 tahun kebutuhan airnya 1,6 liter atau 6 gelas. 

dr Sudung juga memaparkan kalau kebutuhan air pada anak laki-laki dan perempuan juga memiliki sedikit perbedaan. Apalagi setelah masa pubertas di mana anak laki-laki yang aktivitasnya fisiknya cenderung tinggi dan massa ototnya lebih banyak, kebutuhan airnya pun lebih besar.

Selain itu, banyaknya kebutuhan air pada anak juga tergantung pada beberapa hal. Misalnya, makanan yang dikonsumsi, suhu dan kelembapan lingkungan, tingkat aktivitas, dan kondisi tubuh. Pastinya, jumlah air yang dibutuhkan oleh tubuh harus seimbang dengan jumlah air yang dikeluarkan tubuh setiap harinya.

Lalu bagaimana caranya mencegah anak dehidrasi?

dr. Sudung menambahkan, “Sayangnya tidak mudah untuk mendeteksi kecukupan air pada anak karena beberapa gejala dehidrasi tidak terlihat lewat visual. Anak juga seringkali tidak mengenali tanda-tanda dehidrasi sehingga tidak bisa memberitahukannya pada orangtua”.

Meskipun begitu, ada salah satu langkah yang mudah dilakukan, yaitu lewat deteksi tingkat hidrasi anak melalui warna urine yang sifatnya mudah dan praktis melalui cara Urinary Color Chart (UCC) For Kids. Cara ini sedang disosialisasikan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia bekerja sama dengan PT Tirta Investama melalui Indonesian Hydiration Working Group (IHWG).

Di acara media edukasi beberapa saat lalu, Ketua IHWG dr Saptawati Bardosono juga sempat menjelaskan, kalau cara yang menggunakan UCC for Kids sangat mudah. Orangtua hanya perlu menampung air urin anak dalam wadah bening saat berkemih. Perhatikan warna urin dalam wadah di bawah cahaya matahari atau lampu neon putih dan bandingkan dengan tabel warna UCC for kids.

“Warna pada UCC for Kids dapat menunjukkan apakah anak terhidrasi dengan baik, kurang terhidrasi, atau mengalami dehidrasi,” ungkap Saptawati. Cara ini bisa dilakukan pada siang hari sebelum makan siang. Orangtua bisa mengajarkan anak sejak dini untuk bisa melakukan deteksi dini secara mandiri.

Menurut Saptawati, UCC for Kids ini merupakan salah satu bentuk komitmen IHWG untuk terus meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya asupan cairan dan status hidrasi bagi kesehatan maupun kehidupan manusia. Tahun ini, IHWG memfokuskan perhatian pada peningkatkan tingkat hidrasi pada anak Indonesia. Melalui sosialisasi UCC for Kids, IHWG berharap dapat meningkatkan status hidrasi anak Indonesia menjadi lebih sehat.

Lalu, kapan waktu yang tepat melakukan deteksi melalui UCC for Kids ini?

Menurut dokter yang kerap disapa dokter Tati ini, pemeriksaan lewat UCC for Kids sebaiknya dilakukan sebelum makan siang. Hal ini dikarenakan, anak-anak sudah melakukan berbagai aktivitas. Sedangkan ketika pagi hari, saat anak baru bangun tidur warna urin memang akan cenderung lebih keruh karena saat tidur karena baik orang dewasa atau anak-anak mengalami puasa fisiologis saat tidur.

Untuk itulah, Ketua Indonesian Hydration Working Group ini mengingatkan kita, para orangtua untuk memperhatikan kecukupan air anak. Soalnya, tidak sedikit anak yang baru mau minum setelah diminta oleh orangtua.

Oh, ya, waktu itu dr. Saptawati ini juga mengatakan kalau air putih merupakan MPASI pertama yang harus dikenalkan pada anak. Bahkan katanya, hal ini mempengaruhi anak untuk menyukai makanan lain seperti sayur.


Wednesday, July 1, 2015

Agar terhindar dari perilaku homoseksual, terapkan hal ini pada anak anda

Lakukan hal ini agar anak terhindar perilaku homoseksual. Simak selengkapnya…

Sahabat Ummi, isu LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan transgender) makin mewabah, jika kita tak berhati-hati maka putra-putri kita juga dapat terkena imbas dari perilaku menyimpang homoseksual ini.

Berikut adalah beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk menghindarkan anak dari perilaku homoseksual:



1.Perkuat identitasnya sebagai anak laki-laki atau perempuan!

“Dari Ibnu Abbas ra berkata: “Rasulullah SAW melaknat laki-laki yang berlagak wanita, dan wanita yang berlagak meniru laki-laki. Dalam riwayat yang lain: “Rasulullah SAW melaknat laki-laki yang meniru wanita dan wanita yang meniru laki-laki“. (HR. Bukhari)

Berilah mainan dan pakaian yang sesuai dengan identitas laki-laki atau perempuannya. 

2.Hormati aurat anak dengan tidak memperlihatkannya di depan umum!

Meskipun masih kecil, ajari anak untuk menghormati auratnya terutama alat kelaminnya, dengan tidak membuka bajunya di depan umum atau depan orang lain.

Masih bayi sekalipun, orangtua bisa meminta izin terlebih dahulu sebelum membuka popok anak dan membersihkan daerah kemaluannya, ajak anak bicara, misalnya, "Mohon maaf ya sayang, Bunda harus buka popoknya untuk membersihkan daerah rahasia kamu, Bunda minta izin yaa, daerah ini tidak boleh ada yang lihat dan pegang-pegang tanpa sepengetahuan Bunda ya!"

agar anak terhindar perilaku homoseksual

Anak harus diberi pengertian bahwa daerah sekitar kemaluan merupakan daerah rahasia yang tidak boleh dipertunjukkannya pada orang sembarangan, bahkan orang yang dikenal sekalipun tidak boleh meraba-raba atau menyentuh dan melihatnya. 

”Janganlah seorang laki-laki melihat aurat laki-laki, jangan pula perempuan melihat aurat perempuan. Janganlah seorang laki-laki tidur dengan laki-laki dalam satu selimut, begitu juga janganlah perempuan tidur dengan perempuan dalam satu selimut” (HR. Muslim).

Dampaknya, anak akan mengerti rasa malu dan paham bahwa aurat harus dijaga dengan baik.

3.Pisahkan tempat tidur anak di usia 10 tahun

"Perintahkan anak-anak kalian shalat pada usia 7 tahun, pukullah mereka jika meninggalkannya pada usia 10 tahun dan pisahkan di antara mereka tempat tidurnya." (HR. Ahmad dan Abu Dawud, dihasankan oleh An Nawawi dalam Riyadhus Shalihin dan Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud)

4.Ceritakan kisah kaum Nabi Luth pada anak

Jangan menganggap tabu obrolan seputar homoseks, salah satunya bisa dengan menceritakan kisah nabi Luth yang kaumnya merupakan pelaku homoseksual dan mendapat adzab Allah.

Biarkan anak mengetahui bahwa perilaku menyimpang seperti pernikahan sesama jenis, menyukai sesama jenis adalah perbuatan yang akan mendapat adzab Allah di dunia dan akhirat.

Demikianlah beberapa tips mudah yang bisa kita praktekkan untuk putra-putri di rumah, semoga Allah menghindari keluarga kita dari perbuatan menyimpang yang dilakukan oleh kaum Nabi Luth.

Sumber ; ummi-online[dot]com